karangasemtourism

Yearly Archives: <span>2017</span>

Home »  2017

Keindahan Gunung Agung dan Keagungan Letusannya

On December 3, 2017, Posted by , In Uncategorized, With No Comments

Bali yang eksotik tidak hanya menyediakan keindahan pantai dan budaya yang unik. Namun juga memiliki sejumlah gunung yang menjadi tujuan para pecinta alam untuk ditaklukkan. Salah satunya adalah Gunung Agung yang tegak megah yang berada di Kabupaten Karangasem dengan ketinggian 3.031 mdpl. Selain itu juga ada Gunung Catur atau yang lebih dikenal Puncak Mangu, Gunung Batur dan Gunung Batukaru. Masih ada beberapa gunung lainnya, namun Gunung Agung adalah gunung tertinggi di pulau ini.

Panorama yang ditawarkan Gunung Agung termasuk lengkap, yaitu hutan belantara, laut dan Pura Besakih, pura yang sangat terkenal di Bali yang berada di lerengnya. Di puncaknya, kita bisa melihat keindahan Gunung Rinjani yang tertutup awan di bagian puncaknya. Sama halnya dengan Gunung Agung, yang tertutup awan di puncaknya jika kita melihatnya dari puncak Gunung Rinjani. Selain itu, keindahan kepulauan Nusa Penida dengan pantainya terhampar di bagian selatan. Bahkan, kita juga bisa melihat Pantai Sanur yang terkenal dan Danau Batur dari atas puncak Gunung Agung.

daki gunung agung via pura besakih

Perjalanan ke puncak Gunung Agung membutuhkan waktu kurang lebih 10 jam perjalanan yang cukup terjal dengan medan yang beragam, mulai dari hutan, pasir dan tebing. Biasanya pendakian dimulai di malam hari dari sisi Pura Besakih sehingga bisa sampai puncak pada saat sunrise. Ada tiga puncak yang saling berdekatan yang sering menjadi objek foto bagi pendaki alam. Dengan trek pendakian dan indahnya awan yang mengelilingi, berfoto di puncak ini mungkin akan jadi pengalaman sekali seumur hidup Anda.

Namun, tanggal 22 September 2017 lalu, Gunung Agung menggeliat dari tidur panjangnya. Setelah beberapa saat tidak menunjukkan keagungannya, kali ini Gunung Agung memecah perhatian masyarakat Indonesia dan dunia dengan batuk-batuk dan awan asapnya. Geliatnya pun tidak bisa dianggap kecil mengingat sejarah panjang letusannya. Beberapa fakta di bawah ini menceritakan gemuruh Gunung Agung tersebut.

Erupsi tahun 1808

Gunung ini memulai erupsinya dengan melontarkan bebatuan dan batu apung. Banyaknya material ini pada akhirnya membentuk bentang alam kabupaten Karangasem berupa bukit-bukit batu yang mendominasi wilayah ini.

Erupsi tahun 1843

Di tahun ini, erupsi diawali dengan aktivitas kegempaan seperti pada umumnya erupsi gunung berapi. Muntahan abu vulkanik, batu apung serta pasir meramaikan erupsi yang baru terjadi setelah 22 tahun gunung ini beku tanpa menunjukkan aktivitasnya sebagai gunung berapi yang lebih eksplosif dari Gunung Merapi di Jogjakarta.

erupsi gunung agung 1963

Erupsi tahun 1963

Erupsi di tahun ini merupakan erupsi terbesar yang pernah terjadi. Erupsi yang terjadi setelah 120 tahun gunung yang disucikan oleh umat Hindu ini tertidur lelap. Seluruh penduduk yang berada di kaki gunung menjadi korban tumpahan lahar panas yang turun memenuhi lereng-lerengnya. Letusan yang dimulai tanggal 18 Februari 1963 dan baru berakhir pada tanggal 27 Januari 1964 meminta korban sejumlah 1.400 orang meninggal dan hampir 300 orang lainnya terluka.

Letusan gunung seperti biasa dimulai dengan gempa bumi dan diikuti dengan gumpalan asap dan bau belerang yang menusuk. Tidak lama, semburan batu besar dan kecil menyembur dari mulut kawah yang diiringi semburan asap hitam yang sempat membuat wilayah Bali gelap gulita. Awan panas dan hujan lahar menambah kepanikan warga berikutnya. Namun, tetap saja hal ini tidak membuat warga di sekitar lereng mengungsi. Namun justru melakukan upacara di Pura Besakih untuk meminta perlindungan kepada Dewa yang menyebabkan besarnya jumlah korban jiwa pada erupsi ini.

puncak gunung agung - diatas awan

Erupsi tahun 2017

Tahun 2017 ditutup dengan kembali bangunnya salah satu tempat yang disucikan di pulau dewata ini. Aktivitas kegempaan yang sudah mulai terdeteksi di bulan April mulai menunjukkan bentuknya dengan gempa vulkanik pada bulan Agustus. Walaupun belum menaikkan status Gunung Agung saat itu, para peneliti kegunungberapian sudah mulai menyadari bahwa sang raja sedang menggeliat bangun. Hanya menunggu waktu saja kapan sang raja tersebut bersuara.

Setelah menunjukkan aktivitas vulkanik yang terus meningkat, pada tanggal 14 September, Gunung Agung ditingkatkan statusnya ke level waspada, di mana beberapa aktivitas di lereng gunung mulai dibatasi.  Dari 78 desa yang ada di kabupaten Karangasem, pemerintah setempat telah memasukkan 28 desa ke dalam kawasan rawan bencana. Warga pun sudah diminta mengungsi ketika awan hitam dan debu tersembur dari kawah dengan jumlah pengungsi mencapai 134.500 orang.

Namun, pada tanggal 29 Oktober menjadi hari yang melegakan bagi para pengungsi. Karena dengan diturunkannya status gunung dari waspada menjadi siaga, mereka diperbolehkan pulang kembali ke desa mereka.

Walau demikian, petugas BMKG tetap mengingatkan warga, bahwa potensi erupsi masih ada sehingga setiap saat warga diminta untuk siap mengungsi. Hal ini untuk mencegah dampak korban jiwa pada erupsi Gunung Agung yang belum selesai.

Sebagai gunung eksplosif, karakter Gunung Agung memang sulit diprediksi. Sehingga ketika erupsi tahun 2017 terjadi, pemerintah beserta petugas BMKG tidak ingin mengabaikan tanda-tanda dengan segera melakukan tindakan preventif untuk menyelamatkan warga di sekitar lereng dari kemungkinan erupsi besar seperti yang pernah terjadi di tahun 1963.