karangasemtourism

Tajen Bali: Antara Hiburan Rakyat dan Ritual Agama

Home »  Uncategorized »  Tajen Bali: Antara Hiburan Rakyat dan Ritual Agama

Tajen Bali: Antara Hiburan Rakyat dan Ritual Agama

On December 28, 2017, Posted by , In Uncategorized, With Comments Off on Tajen Bali: Antara Hiburan Rakyat dan Ritual Agama

Begitu beragam macam budaya yang Indonesia miliki bersatu dalam semboyan bhinneka tunggal ika, berbeda-beda namun tetap satu jua. Dari ujung timur Sabang hingga ke ujung barat Merauke, kekayaan budaya negara kepulauan ini meliputi bahasa, pakaian, rumah adat, kuliner, hingga ritual yang menyajikan banyak keunikan. Tidak kurang dari 1.300 suku bangsa tinggal dan menempati tanah nusantara menjadi warga di negara kesatuan Republik Indonesia.

Akan sangat menarik jika kita bisa mempelajari satu per satu budaya daerah yang tersebar di seluruh pulau di Indonesia. Salah satu budaya yang menarik untuk dipelajari adalah budaya yang datang dari daerah Jawa dan Bali. Kebudayaan ini dikenal dengan istilah sabung ayam atau adu ayam.

tajen bali - sabung ayam

Kegiatan ini sebetulnya sudah jarang ditemukan di daerah Jawa karena seringkali dijadikan ajang perjudian. Namun, aktifitas sabung ayam masih banyak ditemui di Bali karena selain untuk hiburan sabung ayam juga merupakan bagian dari ritual keagamaan.

Apa sebenarnya sabung ayam itu dan bagaimana bisa menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia? Simak artikel berikut yang akan menjelaskan tentang sejarah sabung ayam di tanah para dewa, Bali.

Sorak Sorai Untuk Tajen Bali

Sedari pagi orang-orang sudah berkumpul ramai di pelataran pura di salah satu daerah di sekitar Bali. Semua orang begitu semangat untuk mengikuti pelaksanaan tradisi Tabuh Rah. Tabuh Rah sendiri adalah bagian dari upacar Macaru atau Bhuta Yadnya, di mana upacara ini dimaksudkan untuk menangkal kerusakan di bumi yang disebabkan oleh Bhuta (kejahatan) dengan menumpahkan darah ke tanah dalam pertarungan suci.

Ritual Tabuh Rah ini dibawa ke tanah Bali oleh para pelarian Majapahit sekitar 8 abad yang lalu. Waktu pelaksanaan ritual ini merujuk pada keterangan yang didapat dari lontar Ciwa Tatwa Purana yang menjelaskan bahwa di bulan ke-9 penanggalan Bali, orang-orang di bumi diminta untuk memberikan persembahan masing-masing, mengadakan sabung ayam, dan nyepi selama satu hari.

Dalam ritual Tabuh Rah, ayam akan dipertarungkan hingga salah satunya meneteskan darah ke tanah. Darah yang tertetes dari tubuh ayam ini yang dianggap sebagai persembahan bagi Bhuta Kala. Warga Bali juga percaya jika ayam yang terluka hingga darahnya menetes ke tanah, di kehidupan selanjutnya derajatnya akan diangkat menjadi binatang dengan derajat yang lebih tinggi atau menjadi manusia.

tajen - tradisi adu ayam di bali

Sebetulnya agama Hindu juga melarang pembunuhan (himsa) untuk setiap makhluk hidup, namun ada pengecualian jika ini dilaksanakan dengan alasan dharma. Seperti yang disebutkan dalam Lontar Silakram bahwa ada pengecualian jika untuk keperluan agama seperti bersedekah untuk Dewa Puja (untuk Dewa), Pitra Puja (untuk roh para leluhur) dan Athiti Puja (untuk tamu).

Menyoal darah yang digunakan sebagai persembahan dalam ritual ini, menurut salah satu tokoh adat Bali, darah adalah satu elemen yang memiliki kekuatan magis yang dapat menjadi media kekuatan spiritual.

Perkembangan Tajen Bali

Kini tajen bali bukan lagi sekedar ritual namun juga bagian dari hiburan yang paling ditunggu-tunggu masyarakat Bali. Hal ini dikarenakan tajen Bali dimanfaatkan oleh para penggemar judi untuk memasang taruhan guna mendapatkan keuntungan berlipat ganda. Taruhan dalam acara sabung ayam ini bisa mencapai jutaan rupiah untuk sekali pertandingan yang berlangsung singkat, hanya sekitar 3 – 5 menit saja.

Tidak hanya taruhan tradisional ternyata memasang taruhan untuk sabung ayam kini sudah bisa dilakukan melalui online. Banyak situs-situs di internet yang menyediakan jasa judi sabung ayam yang ternyata telah ada sejak beberapa tahun yang lalu. Situs judi bola ini juga berkontribusi dalam membuat judi sabung ayam tetap lestari di tanah Bali.